Tuesday, March 1, 2016

KONFLIK TERHADAP ANAK

KONFLIK TERHADAP ANAK
 
 
Latar Belakang
Keluarga yang ideal meliputi orang tua yang mencintai anak – anak mereka secara merata, dan anak – anak juga memiliki hubungan yang sehat dengan saudara mereka. Namun, dalam dunia kontemporer seperti ini, kadang tidak seperti yang kita harapkan. Oleh karena itu, ada juga persoalan sikap pilih kasih orang tua terlihat di mana – mana. Namun sebelum menangani masalah ini dari perlakuan istimewa serta memberikan solusi untuk menangani hal itu, sangat penting untuk memahami perbedaan antara pilih kasih dan perlakuan yang berbeda. Meskipun mereka tampak sangat serupa, mereka memiliki berbagai titik perbedaan dan perlu cara pandang untuk melihat dengan benar. Sementara perlakuan istimewa atau pilih kasih adalah memberikan perhatian berlebih ke salah satu anak-anak dan menawarkan perlakuan yang positif dibanding orang lain dalam segala situasi, sedangkan perlakuan yang berbeda adalah cara merawat anak dengan cara yang berbeda karena kebutuhan fisik atau mental khusus.
Ketika kita melihat orang tua yang pilih kasih ada beberapa parameter, seperti usia anak, urutan kelahiran, kepribadian mereka, dan jenis kelamin yang menentukan perilaku orang tua terhadap anak-anak mereka. Selain anak-anak, yang mengejutkan, bahkan hingga dewasa  sampai batas tertentu masih merasakan pilih kasih oleh orang tua mereka.
Alasan dalam hal ini bisa karena adanya anak tiri, atau mungkin ada hubungannya dengan pendidikan dan isu – isu yang berhubungan dengan prestasi atau karier.


ISI

A.                Alasan Orang Tua Pilih Kasih terhadap Anak
Apabila orang tua melakukan pola asuh yang salah seperti pilih kasih tentunya ada alasannya, seperti disebut di bawah ini:
1)      Faktor kesamaan dengan orang tua
Contoh : karena ayah merupakan anak tertua di keluarganya, maka ia pun lebih simpati pada anak sulungnya. Bisa juga, anak memiliki kesamaan sifat dengan ibunya sehingga ibu lebih sayang padanya,  atau anak tak disukai ibunya lantaran memiliki sifat seperti ayahnya yang dibenci oleh ibunya.
2)      Riwayat kehamilan
Contoh : Karena kehamilan sangat diharapkan, maka setelah lahir anak menjadi kesayangan orang tua. Sebaliknya, pada kehamilan yang tak diharapkan orang tua malah jadi sebal pada anak.
3)      Anak "Istimewa"
Contoh : Antara lain, anak sering sakit – sakitan atau memiliki penyakit tertentu. Orang tua khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya, sehingga mereka memberi lebih banyak  waktu dan perhatian kepadanya. Rasa takut kehilangan membuat anak itu jadi sangat berharga bagi orang tua. Sering kali anak memiliki nilai tersendiri seperti pembawa keberuntungan, sehingga ia diperlakukan lebih istimewa dibandingkan anak lainnya.
4)      Faktor budaya
Contoh : Adanya nilai – nilai budaya yang mementingkan jenis kelamin tertentu sehingga orang tua lebih menyayangi atau mengutamakan kebutuhan anaknya dari jenis kelamin tersebut dibanding anak lainnya.





B.                 Dampak Sikap Pilih Kasih
Dampak pada anak yang ditimbulkan dari sikap pilih kasih orang tua adalah sebagai berikut :
1)      Merasa diabaikan orang tua.
Pada usia 3 tahun karena perhatian  dari orang tua masih sangat kuat, anak sering kali memunculkan tingkah laku yang dapat menarik perhatian orang tuanya seperti menangis, ngambek dan perilaku negatif lainnya. Saat sedang berlangsung kondisi itu, biasanya orang tua akan menegur sehingga anak merasa telah mendapatkan perhatian dari orang tuannya walaupun sifatnya “terpaksa”. Dengan kondisi ini , anak akan terus berusaha memenuhi kebutuhannya untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.
2)      Kesal dan cemburu pada si anak "emas".
Akan timbul persaingan antar saudara artinya  hubungan yang seharusnya hangat, berubah dingin dan penuh ketegangan . Masing – masing pihak berusaha mendapatkan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya dari orang tua hanya untuk dirinya saja.
3)      Melampiaska rasa marahnya terhadap orang tua kepada si "anak emas".
Apalagi jika anak yang dicemburui berada di bawah usianya, bukan tak mungkin  ia akan melakukan tindak kekerasan kepada anak “emas” itu. Tindakan dapat dilakukan secara verbal dan fisik. Jika si anak sudah memiliki kemampuan verbal (dapat berbicara) atau jika kemampuan motorik kasarnya untuk memukul, menyikut, menendang, dan tindakan agresif lainnya sudah berkembang. Biasanya sekitar kurang lebih 2 tahun.
4)      Sulit bersosialisasi dengan lingkungan sosial lainnya, seperti teman sebaya.
Terutama terlihat pada usia 3 – 5 tahun. Hubungan yang tidak baik dengan orang tua yang pilih kasih membuat anak merasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Ini terjadi karena anak masih mengharapkan pemenuhan kebutuhan afeksinya (akan perhatian) dari orang tua, sementara di pihak lain anak harus berbagi afeksi dengan orang lain.
5)      Meniru sikap orang tua.
Orang tua adalah model utama dalam perkembangan kepribadian anak. Sikap orang tua yang secara tidak sadar menolak  seorang anak akan ditangkap dan dicontoh oleh anak yang lainnya (imitasi). Anak akan belajar untuk bersikap yang sama seperti orang tuanya.
6)      Mengembangkan konsep diri negatif.
Anak memandang dirinya sebagai seseorang yang tidak berarti, sehingga ia menjadi anak yang pasif, bahkan apatis. Ini sudah dapat dirasakan anak mulai usia kira – kira 1,5 – 2 tahun, ketika ia sedang belajar mengembangkan otonomi. Jika otonomi ini tidak diperoleh, maka hasilnya adalah rasa malu dan ragu yang mengarah kepada rasa minder. Dan rasa minder ini akan semakin kuat di usia sekolah.


C.                Yang Sebaiknya Dilakukan oleh Orang Tua
Orang tua sebaiknya melakukan hal – hal seperti di bawah ini :
1)      Intropeksi diri.
Cari tau apa yang menyebabkan anda sebagai orang tua sampai bersikap pilih kasih terhadap anak. Tanamkan dalam diri bahwa tak ada  anak yang ingin diperlakukan berbeda dengan saudara kandungnya dalam hal kasih sayang.
2)      Sediakan waktu yang sama untuk anak – anak.
Membagi waktu secara merata untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak – anak, sampai akhirnya membagi waktu yang sama untuk setiap anak. Misal, sambil mengganti baju anak bungsu, anda bisa memuji gambar yang sedang dikerjakan anak sulung. Bukan dengan menunda pemberian pujian hanya karena harus mengganti baju anak bungsu.
3)      Kenali kebutuhan anak sesuai tahap perkembangannya.
            Dengan peka terhadap apa yang akan terjadi pada masa anak menjalani tahap-tahap perkembangannya, Anda dapat sedini mungkin menghindari sikap pilih kasih. Sebab, Anda telah memiliki pemahaman yang baik akan dampak perlakuan orang tua terhadap perkembangan kepribadian anak. Disamping itu, Anda juga harus peka terhadap perilaku yang ditampilkan anak dan mampu menyikapinya sesuai kebutuhan tahap perkembangannya.
4)      Menggunakan kata – kata bijak
 Hindari penggunaan kata – kata yang bersifat mengutamakan ataupun mendahulukan kepentingan/kebutuhan salah satu anak. Anda harus mampu menggunakan kata – kata bijak sehingga anda tidak punya pemikiran bahwa orang tuanya pilih kasih.
5)      Perlakukan masing-masing anak secara unik.
 Orang tua harus sadar bahwa setiap anak itu berbeda. Beri anak perhatian yang lebih dari yang lainnya, kalau memang itu dibutuhkannya. Di sisi lain, beri pengertian pada anak yang lain mengapa saudaranya harus diperlakukan lebih dari dirinya.




KESIMPULAN

Orang tua harus memberikan kasih sayang mesti sama besar. Bentuk pengungkapannya dapat saja berbeda. Usia dan kemampuan anak menjadi pembedanya. Ketika Lebaran tiba dan asisten rumah tangga sudah mudik, kakak yang berusia 10 tahun boleh mendapatkan pekerjaan yang lebih berat dibandingkan adiknya yang masih berusia enam tahun. Perbedaan ini bukan karena ibu lebih sayang adik. Anak usia 10 tahun sudah mampu mengepel lantai atau menyetrika pakaian. “Adik mungkin hanya kebagian menyapu lantai dan itu pun masih dibantu ibu karena memang dia belum mahir,” kata psikolog keluarga Anna Surti Ariani memberi ilustrasi kasus.
Andaikan atmosfer pilih kasih kental terasa di keluarga, pandanglah tiap anak sebagai individu. Pikirkan kelebihan dan kelemahan mereka, lalu fokuslah pada kebaikan anak. Selanjutnya, luangkan waktu yang seimbang untuk mereka. Lakukan bersama aktivitas yang menyenangkan bagi tiap anak.
Hindari memaksakan anak menjalani kegiatan yang tak membuatnya tersenyum lepas. Lalu, saat mengomentari, menghukum, atau memuji, ulas perilakunya, bukan anaknya. “Tak mudah memang, Anda perlu berlatih untuk menjalaninya,” komentar Naomi Richards yang aktif menggelar workshop untuk meningkatkan kepercayaan diri anak di London, Inggris.
Penelitian yang pernah dipublikasikan di Journal of Marriage and Familyini mengungkap, anak yang merasa sang bunda tak adil dalam membagi kasih sayangnya kelak akan rentan terkena depresi di usia paruh baya.

No comments:

Post a Comment